Lelekku datang sore-sore, langit gelap.
“Arep ngombe opo le? Teh yo?”, tanya Ibuku.
“Lah rausah repot-repot. Tapi teh yo gelem”, jawab lelekku.
“Diyah gawekno wedang kanggo lekmu”, seru Ibu.
Ugh, malas sekali. Ini sedang seru bu, pikirku. Tapi aku tetap berdiri sambil mencoba kosakata yang baru kudengar kemarin: ora sudi.
Lalu aku berjalan ke dapur. Sebentar, kenapa rasanya ada monster di belakangku? Aku menengok ke belakang. Alamak, ibuku sudah siap mengejar sambil menautkan alisnya. Aduh, aduh, kakiku langsung bergerak lari sekuat tenaga.
Mula-mula aku lari ke dapur. Ibu masih mengejar. Aku ke pintu belakang. Kutengok ibu masih juga mengejar. Waduh, aku tadi ngomong apa sih?
Aku terus lari ke belakang kelas-kelas di sekolahku. Sepanjang belakang kelas 5, 6, kantor guru, lalu berbelok ke halaman kelas 1, 2, 3, dan 4. Aku menengok lagi ke belakang. Oh, akhirnya Ibu sudah tak terlihat.
Aku takut pulang. Walau hujan, aku tetap tidak berani pulang. Duduk saja berteduh di gerbang sekolah sampai sore.
Tinggalkan Balasan