“Mbah ini orangnya jahat. Semua dicuci”, katanya sambil tertawa.
“Mbah jijik nduk kalau tidak dicuci. Mbah masak sendiri saja walau sudah tua. Cuma masakan ibumu yang Mbah percaya”, tambahnya lagi.
Aku ikut tertawa sambil mengamatinya. Mbahku yang tinggi, tapi mulai bungkuk. Kulitnya bersih. Kebayanya rapi. Rambutnya licin.
Sekarang dia sedang mencuci telur. Itu karena telur lewat pantat ayam.
Tinggalkan Balasan